The dawn of the rural pedestrian

It started to be more massive about couple decades ago (the syndrome actually got here when Ford first factoried four wheel arived, and when we think that)

Ford start factorying Dalam waktu bersamaan banyak orang berpindah moda ke sarana transportasi bermotor, jalan kaki menjadi aktifitas yang lebih sulit dilakukan, dan seterusnya membuat orang kurang aware dan termotivasi untuk melakukannya.

Dan please bear in mind. Kekurang aware dan motivasian ini bukanlah saja orang-orang tidak mengetahui manfaat positif dari berjalan kaki (dari sisi kesehatan, ekonomi, dan lain sebagainya).

This is obviously another behavioral deadtrap.

Dulu, ketika jalanan tidak seperti ini, tanpa dibuat sebagai sesuatu yang khususpun, banyak orang dengan sendirinya memilih untuk berjalan kaki. Tapi sekarang, disaat jalanan kita biarkan semakin penuh dengan kendaraan pribadi berbahan bakar fosil. Yang berkecepatan tinggi. Yang berpolusi, udara dan suara. Yang memakan ruang begitu banyak meskipun isinya cuman satu orang, tentu saja, jalan kaki menjadi pilihan yang sulit.

People, get real. Apa yang kita butuhkan untuk mau melakukan hal baik seperti berjalan kaki bukanlah membuatkan acara kolektif. Yang kita perlukan adalah sarana paling basic yang mendukung berjalan kaki, yaitu: trotoar. Komponen infrastruktur yang tidak ada di hampir seluruh area rural di Bandung dan jarang kita hargai kepentingannya.

Maksud saya, bagaimana bisa orang-orang berjalan kaki sekarang dan seterusnya bila tidak didukung oleh sarana yang mencukupi? Dan bagaimana pula nanti orang-orang – bilapun acara berjalan kaki bareng ini dieksekusi – bisa nyaman dan aman berjalan kaki dalam jumlah yang besar seperti itu? do you want to cancel the traffic? atau, seperti yang sudah-sudah, hit by cars or motorcycle?.

Apa yang kita butuhkan untuk memotivasi orang-orang untuk secara kontinyu melakukan hal baik seperti itu pun bukanlah dengan membuatnya menjadi meriah. Apakah seperti acara-acara ‘fun’ bike itu,  suatu saat kemudian kita akan mendapati acara berjalan kaki yang dimeriahkan oleh artis dangdut koplo, dibuka oleh pak/bu walikota, presiden, berhadiah mobil dan lain seagainya, sedemikian meriah sehingga orang-orang hanya akan berjalan kaki bila ada acara meriah seperti itu dan besoknya, karena di setiap hari dalam seminggu dapat dipastikan tidak akan ada acara meriah seperti itu orang-orang tidak akan berjalan kaki? Really, what are you trying to accomplish, people?

Dari inisiatif-inisiatif seperti ini kita bisa melihat betapa tersesatnya cara berpikir sebagian besar orang. Alih-alih memperjuangkan yang secara strategis dan teknis berhubungan dengan kebutuhan real secara mendasar, we, repeatedly, make gimmicks.

Please, atuh lah. Stop fooling yourself.

Dan ah, saya tentu saja tidak akan mengikuti acara-acara tak jelas seperti itu. Dan andapun saya kira, tidak perlu. Satu-satunya acara jalan kaki bersama yang relevan untuk kita ikuti adalah ketika:

  1. ini adalah bagian dari program advokasi pengadaan infrastruktur trotoar, dan/ atau
  2. ketika trotoar benar-benar sudah tersedia.

Sementara itu, bersama atau tidak, ada acara khusus atau tidak, berjalan kakilah sesering dan sebisa mungkin. Kalau tidak, bersepedalah. That is my friend, the only form of healthy transport development that make sense.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s