Tidak boleh bersepeda ke sekolah

Nggak boleh sama ayah. Iya kan, Yah?

Begitu kata putri saya, tanpa beban, ketika beberapa kali ditanya oleh ibu atau saudara mengenai kenapa sekarang tidak lagi bersepeda ke sekolah.

Dan setiap kali mendengar kalimat tersebut, sebagian pikiran saya kecut dengan ingatan terakhir ketika saya dan putri saya bersepeda ke sekolah. Sebagian lagi berasa helpless, tapi sebagian lagi tetap tenang, karena ini adalah keputusan yang sudah kami bersama pikir dan diskusikan sebagaimana biasanya kami memutuskan sesuatu untuknya. Dan saya percaya bahwa sampai saat ini, putri saya ini benar-benar memahami mengapa ayahnya merasa perlu untuk mempertimbangkan keinginannya (keinginan kami bersama) untuk bersepeda ke sekolah. Minimal untuk sementara

Anak saya ini baru saja masuk kelas satu SD dan bersepeda ke sekolah bukanlah hal yang baru untuknya. Ini adalah aktifitas yang dia sudah lakukan sejak TK, meskipun tidak setiap hari.

Beliau adalah yang pertama dan mungkin satu-satunya yang paling sering ke sekolah bersepeda. Ini berjalan secara sukarela begitu beliau bisa merasakan efek kesehatan, dan pelatih les sepatu rodanya menyarankan agar beliau melakukan lebih rutin aktifitas yang melatih oto kaki, which is sangat klop dengan motvasinya untuk bersepeda.

(gambar peta rute bersepeda)

Dan memang, dibanding dengan kondisi jalan ke sekolahnya sekarang, rute bersepedanya dulu sewaktu TK, lebih pas untuk bersepeda. Tidak bisa benar-benar dibilang nyaman sebetulnya (lagipula emang kagak ada yang bener-bener nyaman bersepeda di kota ini mah), tapi ini adalah rute yang paling pas. Udara bersih dan jalur dengan lebih sedikit kendaraan bermotor.

….

Ini adalah keputusan yang sudah saya pertimbangkan masak-masak dan tidak akan saya sesali. Ini adalah hasil diskusi, yang selalu saya biasakan agar anak saya terbiasa nalar, mempergunakan akal dan rasionya sejak usia dini, dan

Terkadang saya begitu frustasi dan menyalahkan:

  • keputusan kami menyekolahkannya ke rute yang tidak bisa lagi bersepeda (saya bahkan sempat berpikiran untuk memindahkannya ke sekolah lain, tapi benar kata istri saya, uang pangkalnya sudah dibayar terlalu besar untuk
  • keputusan putri saya untuk selalu memilih sepeda lebih besar dari ukuran, dengan sadel yang diset lebih tinggi sehingga kakinya musti berjinjit
  • Lalu lintas diantara rumah kami dan sekolah, yang begitu hostile terhadap pejalan kaki dan orang yang bersepeda, apalagi anak. Karena seharusnya, bahkan ketika anak memutuskan untuk melakukan apa saja, dia aman.

Tapi saya sadar bahwa tidak ada gunanya menyalahkan. Dan memikirkan sesuatu tidak bisa saya rubah sungguh sangat tidak berguna.

Jadi sekarang, saya dan putri saya tengah menanti saat-saat dimana kakinya lebih panjang. Beliau lebih jangkung, sehingga tidak usah tergopoh-gopoh ketika mengontrol stang atau turun dari sadel.

Dan sementara itu, kami akan tetap terus menikmati berboncengan sepeda, diantara kebiasaan baru lainnya, yang juga tidak kalah bermanfaat dari bersepeda, yang ternyata kembali putri saya bisa nikmati dan nalarkan: lari pagi/ sore. Keliling lapang olahraga, setidaknya 2 kali dalam 1 minggu. Kadang 10 menit sesi awal untuknya tanpa berhenti, kadang sambil cekikikan dan main-main.

And O dear deadly motorized traffic we’re let it in to. You could threat my daughter safety while acting like an innocent or maybe a champion. You could take some of her health. But we’re promize you this: itu hanya untuk sementara. Kami sama sekali belum menyerah. Dan kami tidak akan menyerah dalam merebut apapun kebaikan yang seharusnya bisa kami dapatkan sejak lama.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s