Mengapa Saya Bersepeda

Trend, Carbon Footprint, Ridwan Kamil. Tidak ada satupun dari istilah ini yang saya tahu mendorong saya bersepeda setiap hari seperti sekarang. Apa hal-hal yang menjadi dorongan sebenarnya?

  • Capek dan males. Capek menghadapi macet, capek musti ngeluarin uang buat beli bensin (yang sebagian adalah untuk membiayai kemacetan), capek mikirin harus parkir dimana, berapa lama dan dengan cara apa. Capek membiayai pengejaran status sosial, gaya hidup dan hal-hal medioker lain yang terlalu mahal dan boros untuk dibuat penting, hal-hal yang tidak benar-benar penting untuk saya bawa mati.
    Males kembali menghadapi masalah yang secara mendasar akan selalu gagal dipecahkan karena sejak awal itu adalah masalah yang dibuat-buat, yang bahkan bilapun saya bisa mencapai puncak pergulatannya, saya hanya akan mendengar cekikikan para konspirator kapitalis global yang berhasil memerangkap saya dengan berbagai hal duniawi. Sebuah perasaan buruk dan tulisan besar: “Selamat anda telah jadi korban yang baik”.
    At the end, saya capek dan males lagi-lagi menjadi orang yang kurang dan sulit bahagia karena standarnya ditunda terlalu jauh. Saya ingin lebih mudah mencapai kebahagiaan. Saya ingin menempuh jalan yang lebih praktis.
  • Menjaga kesehatan – raga dan jiwa. Tubuh saya sebelum bersepeda adalah tubuh yang ringkih dengan rasa out of control yang besar. Serangan maag, sakit kepala, lemah dan lesu adalah hal yang biasa saya alami disamping kefrustasian, ketidak stabilan emosi, dan rasa kurang percaya diri yang besar (yang seringkali saya pecahkan – secara keliru – melalui berbagai pengejaran konsumer/keduniawian). Saya ingin merubah hal tersebut, ini tengah berjalan, dan sekarang saya bahkan tengah mengusahakan ritme baru dimana jadwal pekerjaan diatur mengikuti rutinitas olahraga dan bersepeda (bila tidak bisa bersepeda atau menempuh angkutan umum saya akan menggubahnya kedalam aktifitas online).
  • Hidup Selaras dengan Alam. Diantara atap garasi saya rusak diterjang puting beliung, rumah dan daerah kami kebanjiran karena saluran air tidak siap menghadapi banjir bandang, hilangnya banyak flora dan fauna yang dulu menyemarakkan kehidupan kami, dan berbagai peristiwa alam lain yang saya tahu dan alami langsung, saya ingin punya sikap yang lebih serius dan prilaku yang lebih selaras untuk hidup berdamai dengan alam. Ini adalah kredo yang selalu saya ingin hubungkan dengan kualitas kehidupan anak saya kelak, yang sampai hari ini, saya tidak pernah menyerah, mengkomunikasikan, menyadarkan dan mengingatkannya mengenai hal tersebut. Berbagai istilah fancy seperti Carbon Footprint, Eco, Green, dan praktek-praktek buruk dan deceitful mengenainya, adalah hal yang saya ketahui (dan pelajari) belakangan.

Yes, saya tahu, tidak semua orang memikirkan bersepeda seperti ini, dan tulisan inipun tidak saya tujukan untuk memotivasi orang. Saya ingin mencatatkannya saja. Sehingga bilapun saat ini para pembaca masih enggan bersepeda, rasa ketidak bencian saya, rasa empati saya, kefahaman saya bahwa memang ada persoalan yang lebih besar di belakangnya. Hal yang sistemik seputar infrastruktur dan lain sebagainya, adalah – dan hanyalah – literasi yang muncul begitu saya bersepeda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s