Sepeda dan Keimanan

Satu lagi pertanyaan lain mengenai bersepeda yang tidak terlalu sering (dan bahkan hanya satu kali saja) saya terima, namun cukup mengusik kurang lebih seperti ini:

Penanya : Mas, nggak malu kemana-mana bersepeda?

Astagaa, coba, masak yang kayak gitu ditanyain? Tapi ya begitulah sindrom pertumbuhan tanpa infrastruktur yang memadai, termasuk aspek literasinya.

Saya jawab saja

Yaah mas, kalo saya malu bersepeda itu artinya kan saya secara sukarela mengikis keimanan saya.

Lho, kenapa begitu?

Iya. Kita orang beragama mustinya kan yakin bahwa malu itu kalau kita berbohong, nggak shalat, berbuat jahat, buang sampah seenaknya, bikin polusi, dan lain sebagainya. Lha, kalau saya malu bersepeda – hal yang terbukti banyak manfaat positifnya, buat saya maupun masyarakat – itu kan sama dengan saya secara sukarela berusaha mengikis keimanan saya, bener nggak?

Mosok sih saya begitu.

Penanya seperti biasa. Mringis nggak jelas.

-Yaah, begitulah-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s