Untuk kesekian kalinya

No surprise. Bila ada waktunya, salah satu kesenggangan saya adalah ngoprek sepeda. Bukan hanya sepeda saya dan keluarga, tapi juga sepeda orang lain, dari mulai petugas keamanan warga sampai anak tetangga. Ini saya lakukan gratis (dan terkadang bahkan, bila saya tengah dalam mood bagus – haha – saya bisa gantikan komponen yang rusak dengan berbagai komponen yang ada di ‘workshop’ sepeda keluarga kami). Syaratnya cuma tiga , dan ini sama sekali tidak melibatkan uang karena bukan itu tujuannya.

Pertama; orangnya saya kenal sebagai orang baik (seperti apapun terminologi ‘baik’ yang ada di benak saya. Ya, terserah dong, ini workshop, workshop saya kok). Kedua; sepeda yang hendak diperbaiki dimandikan dulu (atau at least bersedia memandikan bareng begitu perbaikannnya selesai). Ketiga; jangan tanya selesainya kapan karena saya bukan petugas bengkel profesional, bukan juga pengangguran.

Dan sore kemarin tibalah saatnya finishing dua sepeda lipat milik putra tetangga. Yang sudah teronggok, sedemikian lama tidak terpakai sehingga mereka merasa cukup putus asa untuk menyerahkannya kepada saya, dan kemudian teronggok cukup (baca: terlalu) lama pula di workshop saya.

—–

Mengetahui saya tengah memperbaiki sepeda mereka, datanglah para anak tetangga tersebut. Seperti biasa, mereka saya libatkan, sambil ngobrol ngalor ngidul, dan menclok di ‘pertanyaan klasik itu’:

Anak : Pak Fahmi (terkadang saya merasa begitu lucu mendengar bagaimana mereka melafalkan nama saya dengan sebutan ‘Pak’), kenapa mobilnya nggak dibenerin?
Saya : males ah.
Anak : kenapa males?
Saya  : (diam sebentar. Mikir. Kasih tahu jangan, kasih tau jangan ya?) … mending uangnya ditabung saja.
Anak : ditabung buat apa?
Saya  : Macem-macem. Biaya pendidikan anak salah satunya.
Anak : Ooh, buat biaya sekolah dede Tea (anak saya) ya?
Saya  : (terdiam sebentar, lagi-lagi, merasa kurang siap) Ya. Benar. Pinterrrr!

Dan begitulah salah satu sore di workshop perbaikan sepeda gratis Fahmi Ilmansyah. Untuk kesekian kalinya, anak-anak ini membayar saya dengan pengingatan. Betapa saya masih juga sering lupa, dan under estimate, terhadap encernya pikiran mereka. 

Salam

~F~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s