That Good Feeling

happiness-is-a-butterfly

Ketika saya bekerja di rumah dan tidak ada jadwal kedatangan teh Irma (pengasuh anak sekaligus perawat rumah), saya bertugas mengantar jemput anak (ke dan dari sekolah), dan ini saya lakukan bersepeda.

Ada dua hal yang anak saya berulang kali lakukan ketika dibonceng. Hal pertama yang berulang kali anak saya lakukan adalah merentangkan kedua tangannya lepas-lepas. Terkadang sambil berdiri di atas peg (jalu/ dudukan kaki) sepeda sambil tertawa-tawa kecil. Pernah satu kali saya tengok (sekejap, karena pandangan saya musti senantiasa tertuju kedepan), matanya setengah terpejam dan hidung kembang kempis. “Ayah-ayah!”, serunya. Dan seperti biasa, saya akan terpaksa menurunkan kecepatan.

Yang kedua, dia memeluk pinggang saya lekat-lekat. Dari belakang tentunya. Dengan wajah menyamping, sembari juga memejamkan mata.

Sekali-sekali kami menjadikan pelukan ini bahan guyonan. Saya pura-pura kehabisan nafas karena saking kuatnya dipeluk, anak saya ketawa-ketawa sambil lebih mengencangkan lagi pelukannya, beberapa saat kemudian dia melepaskannya, lalu mengulanginya lagi. Terus seperti itu sampai kami berdua capek ketawa atau menemukan keasyikan lain.

Rute yang kami gunakan adalah kombinasi antara jalan raya (yang mulus, namun bising dan lebih penuh dengan kendaraan bermotor) dan jalan warga (yang berbatu, minim polusi dan jarang kendaraan bermotor). Yang anak saya lakukan ketika melewati jalan raya biasanya adalah memegang samping kiri dan kanan baju saya, memperlakukan layaknya simpul yang bisa erat dipegang (terkadang saya cukup waswas apakah ini cukup aman, namun sejauh ini tidak pernah sekalipun ada masalah karenanya). Kedua hal tersebut; rentangan tangan dan pelukan erat lebih sering terjadi diluar jalan raya.

Saat ini anak saya berumur 6 tahun. Belum pandai berbohong dan pada dasarnya semua anak memang belumlah jadi manusia yang terampil berbohong (itulah salah satunya mengapa saya sangat mengagumi mereka). Jadi, kedua hal diatas menurut saya adalah ekspresi jujur berikutnya yang menandai nilai dari satu hal yang begitu bersahaja. Bersepeda. Boncengan.

Mudah-mudahan dengan mencatatkannya disini, anak saya kelak bisa selalu ingat betapa bernilainya ekspresi itu, betapa tidak tergantikannya rasa tersebut, dan betapa untuk mencapainya, sang ayah rela menukar banyak hal duniawi.

Amiin.

~F~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s