Logika Terbalik

Mengetahui saya diet dan seringkali puasa kendaraan bermotor, kemana-mana bersepeda, beberapa temen berinisiatif ngasih komentar bahkan ketika saya nggak nanya sekalipun!.

Gw sih mau bersepeda kalo jalannya udah bener!.

Begitu kurang lebih kata mereka.

Dalam hati saya bertanya,

Siapa?. Siapa yang nanya?.

Hehehe…

Tapi emang bener. Bersepeda tanpa infrastruktur khusus memang ribet. Ini bikin bersepeda jadi mahal. Harus pake pelindung ini-lah, kudu ada peralatan tambahan itu-lah, dan seterusnya. Udah mahal, karena pada dasar berbagai peralatan ini bersifat menambahkan, bukan mengurangi, ya jadi ribet. Bersepeda jadi kurang praktis dan nyaman. Jadi kudu mikirin helm ntar disimpen dimana, jadi kudu mikirin ntar mandi dimana, so on, and so on.

Yang lebih parahnya lagi, udah mahal, ribet dan nggak nyaman, tetep aja nggak aman. Mau seberapa mahal peralatan pelindung, mau seberapa fancy hi-viz, mau keringetan sedikit atau banyak, orang-orang bersepeda kayak dikejar-kejar begal. Salip sana, salip sini, berusaha menyaingi kendaraan bermotor, yang pada dasarnya tidak akan bisa tersaingi karena beda spesies dan pasti kalah.

Saya jadi ingat beberapa waktu lalu ketika atas saran saya, tetangga terdekat memutuskan untuk membeli sepeda agar anaknya bisa mandiri, menempuh rute yang cukup dekat ke sekolah dasarnya dengan bersepeda. Tidak lama sesudah itu salah satu anaknya dikabarkan lecet-lecet dan berdarah. Subhanallah.

Di waktu lain saya pernah juga menepi (sewaktu saya menepi Alhamdulillahnya, sudah ada banyak orang yang membantu) demi menolong anak yang juga terserempet motor ketika hendak menyeberang. Di satu sisi sang pengendara motor mengaku bahwa dia memang tengah sedikit mengebut dan melamun, dan meskipun menawarkan untuk mengantarkan sampai rumah, sang anak menolak, karena rumahnya sudah begitu dekat, tak jauh dari mulut gang dimana dia terserempet. Di sisi lain, sepeda sang anak juga memang remnya sedikit blong, nggak pakem gitu.

Bersepeda tanpa infrastruktur juga ribet karena stigma yang ditimbulkan oleh kurang nyaman, kurang aman dan mahal ini meleber ke dalam benak berbagai lapisan masyarakat, melahirkan berbagai gambaran bersepeda yang terdistorsi dan keliru. “Kurang” nyaman jari “benar-benar” tidak nyaman, “kurang” aman jadi “benar-benar” tidak aman, bisa mahal bisa tidak jadi “musti selalu yang mahal-mahal”.

Sedemikian melebernya sehingga memunculkan berbagai skenario, dari mulai tertukarnya persepsi antara bersepeda sebagai sport dan transport, ….

Ini di satu sisi adalah hal yang aneh, lucu, dan bahkan tidak masuk akal. Namun bila kita melihat gambaran besarnya, memang begitulah konsekwensi dari pertumbuhan yang tidak utuh. Cunundrum. Kebingungan.

Jadi, kembali ke laptop. Pernyataan beberapa (atau sebagian besar?) orang seperti kenalan saya ini – meskipun mungkin dia tidak memikirkan kaitan sejauh ini – memang ada benarnya.

Hampir di semua belahan dunia yang menggencarkan bersepeda sebagai sarana transportasi sehari-hari, pertumbuhan populasinya sangat terkait dengan pengembangan infrastruktur yang berkualitas baik.

(gambar beberapa denah lajur sepeda di Amsterdam, Belgia dan negara-negara lain. Q: beberapa negara yang sudah lebih maju – dan ini ditandai dengan bagaimana mereka memperlakukan sepeda, sebagai sarana transportasi – bukan hanya seperti berjalan kaki, orang-orang bersepeda di lajur khusus, yang dirancang terpisah dari lajur kendaraan bermotor, minim persimpangan, dan lain sebagainya. Beberapa bahkan begitu ‘canggih’ (bukan dari teknologi, tapi dari teknik dan metode penanganannya) sampai melibatkan berbagai terowongan bersepeda dan mengadakan pengaturan dimana ada batas jarak yang ketat mengenai pemisahan lajur bersepeda dengan lajur kendaraan bermotor)

Dengan adanya infrastruktur seperti ini, nggak pake berbagai peralatan khususpun bersepeda jadi sarana transportasi yang bukan hanya nyaman, aman dan murah (terjangkau), namun sangat menarik hati.

Nah masalahnya, kita hidup di negara yang jauh pasak daripada tiang. Yang lalu lintasnya awut-awutan dan berusaha untuk istiqomah memenuhi standar paling dasar sekalipun susahnya minta ampun. Negara dimana bahkan puncak pimpinannya sekalipun malah lebih merasa penting untuk mendukung pengadaan mobil murah. Membanjiri jalan yang sudah sedemikian macet, boros dan jumud dengan ekonomi yang tidak stabil karena berbasis sisa-sisa bahan bakar fosil. Negara yang sudah kadung terhutangi dampak berbagai dekadensi sebelumnya; dari mulai korupsi, kekerasan, sampai masalah lingkungan, yang sedemikian sulit terselesaikan bahkan sesudah diprioritaskan berulang kali.

Nah, kalau dalam situasinya seperti ini, meniatkan bersepeda begitu infrastrukturnya ada di semua tempat, secara sempurna.

Itu bakal bersepedanya kapan?

Ini jelas berlebihan. Ini alasan ngawur. Sengawur-ngawurnya seseorang yang hanya akan berjalan kaki kalau semua jalan sudah dilengkapi dengan trotoar dan semua trotoar sempurna adanya. Ndak bisa begitu. Mustinya sih ndak gitu-gitu amat.

Infrastruktur nggak jatuh dari langit, atau begitu saja sebagai hasil kemurah hatian seorang pemimpin. Ini hanya akan ada kalau diperjuangkan. Dan yang lebih dulu harus ada, tentu saja, adalah orang-orang yang memperjuangkannya. Gimana pula bisa diperjuangkan bila para calon pejuang – yang pada dasarnya – tidak memperjuangkan untuk orang lain kecuali untuk dirinya sendiri dan keluarganya (jalan yang kurang nyaman, aman, dan sumber penyakit – polusi, itu kan dampaknya terasa setiap hari sama tiap orang kan?) justru menunggu infrastrukturnya ada? Mau nunggu apaan?

Kebayang kan betapa terbalik logikanya. Dan betapa dengan logika seperti ini justru mungkin tidak akan ada infrastruktur sepeda, dan tidak akan tercipta lalu lintas yang nyaman, aman, affordable, untuk setiap orang seperti yang kita bersama inginkan.

Jadi, silahkan dipikirkan baik-baik alasan dan logikanya.

Kalau menurut saya mah, no excuse, kita sudah terlalu lama membiarkan anak, istri, keluarga jadi korban lalu lintas yang tidak sehat, tidak nyaman, dan tidak aman, yang akarnya adalah gara-gara kita terlalu lama membiarkan pikiran kita terbalik-balik.

Semakin lama dibiarkan bukan hanya semakin tidak sehat kita secara fisik, tapi semakin miring pula logika kita, semakin lemah kita punya iman.

Jadi, bersepedalah sekarang.

Salam

~F~

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s